Modus Penipuan CPNS 2014
Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) melalui Jalur Kebijakan Penerimaan CPNS Daerah 2014, merupakan modus baru yang digunakan para penipu untuk mengelabuhi korban. Al hasil banyak pihak yang tertipu dan tergiur menjadi PNS. Korban mulai dari tenaga honorer, Pegawai Negeri Sipil (PNS), sampai Pejabat setingkat Sekretaris Daerah dan Kepala Daerah.
Saat itu, beredar surat palsu Kepala BKN bernomor: K 26-30/V 11-7/2014 tertanggal 7 November 2014 perihal Kebijakan Penerimaan CPNS Daerah 2014. Setelah melalui pemeriksaan perihal surat tersebut oleh berbagai pihak, akhirnya surat tersebut bukan produk BKN.
Penipu yang membawa surat Kepala BKN tersebut berpenampilan perlente dan datang menggunakan mobil mewah. Dirinya juga sempat menghubungi beberapa pejabat penting daerah dan untuk menyakinkan korban penipuan CPNS, menggunakan salah satu kantor pemerintah untuk digunakan pertemuan.
"Aksi penipu CPNS tersebut dengan mempresentasikan dan memperkenalkan dirinya sebagai orang pusat dengan dilengkapi berkas-berkas dengan kop surat BKN, KASN, Mendagri dan lain-lainnya" ungkap salah satu korban PNS yang turut serta hadir dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan di salah satu kantor pemerintah tersebut, dihadiri oleh beberapa PNS. Tidak tahu bagaimana cara penipu CPNS mengundang para korbannya, tetapi yang datang pada pertemuan tersebut kebanyakan PNS dari berbagai instansi.
Korban terbanyak sebenarnya dari instansi dinas pendidikan, bahkan ada satu orang Kepala tata Usaha di salah satu sekolah membawa korban sampai 40 orang. Ada salah satu kerabat dekat pejabat, juga menjadi salah satu korban perekrutan CPNS palsu. Ada juga beberapa Kepala Sekolah yang menyerahkan sejumlah uang kepada penipu CPNS, dengan memasukkan nama saudara dan anak kandungnya sendiri.
Bahkan korban CPNS 2014, ada yang sudah menerima Surat Keputusan (SK) CPNS aspal, dan sampai saat ini SK tersebut masih ada dan disimpan oleh korban penipuan CPNS.
Sebenarnya, kasus ini sudah dibongkar langsung oleh Kepala BKD saat itu. Setelah melakukan pengecekan keaslian SK yang diterima oleh korban penipuan CPNS, dan dipastikan SK tersebut palsu. Kepala BKD saat itu, melakukan penggerebekan pertemuan antara penipu CPNS dan para korban di aula salah satu kantor pemerintah.
Anehnya, dalam penggerebekan tersebut, pelaku dapat meloloskan diri dengan kabur dengan kendaraan roda empat. Diduga kendaraan para penipu CPNS tersebut, memang sudah disiapkan standby siap jalan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melarikan diri.
Setelah pelaku penipuan CPNS berhasil melarikan diri, para korban yang kebanyakan dari PNS yang mengkoordinir perekrutan CPNS bodong tersebut baru tersadar, sebagai korban penipuan CPNS.
Para korban penipuan CPNS hanya mengenal 2 orang pelaku, yang satu dipanggil datuk yang mengaku sebagai warga Probolinggo dan yang satu mengaku warga Blitar dan mengaku pejabat dari pusat.
Akhirnya, banyak PNS yang saat itu menjadi koordinator perekrutan CPNS palsu tersebut harus berurusan dengan para korban yang meminta sejumlah uang yang telah disetorkan untuk dikembalikan.
Beberapa korban yang paham, bahwa baik koordinator perekrutan CPNS maupun pihak yang menyetorkan sejumlah uang untuk keperluan CPNS, sama-sama menjadi korban penipuan. Tetapi bagi pihak yang tidak sadar, tetap menuntut uangnya dikembalikan oleh para koordinatornya.
Sedang pelaku, mulai kejadian melarikan diri, sudah tidak dapat lagi dihubungi. Dan dicek ke instansi sesuai pengakuan penipu CPNS tersebut, tidak ditemukan nama orang tersebut. Dan kantor tersebut juga mengklarifikasi jika tidak ada perekrutan CPNS dengan cara-cara seperti yang dilakukan penipu CPNS tersebut. (H. Darma)
Saat itu, beredar surat palsu Kepala BKN bernomor: K 26-30/V 11-7/2014 tertanggal 7 November 2014 perihal Kebijakan Penerimaan CPNS Daerah 2014. Setelah melalui pemeriksaan perihal surat tersebut oleh berbagai pihak, akhirnya surat tersebut bukan produk BKN.
Penipu yang membawa surat Kepala BKN tersebut berpenampilan perlente dan datang menggunakan mobil mewah. Dirinya juga sempat menghubungi beberapa pejabat penting daerah dan untuk menyakinkan korban penipuan CPNS, menggunakan salah satu kantor pemerintah untuk digunakan pertemuan.
"Aksi penipu CPNS tersebut dengan mempresentasikan dan memperkenalkan dirinya sebagai orang pusat dengan dilengkapi berkas-berkas dengan kop surat BKN, KASN, Mendagri dan lain-lainnya" ungkap salah satu korban PNS yang turut serta hadir dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan di salah satu kantor pemerintah tersebut, dihadiri oleh beberapa PNS. Tidak tahu bagaimana cara penipu CPNS mengundang para korbannya, tetapi yang datang pada pertemuan tersebut kebanyakan PNS dari berbagai instansi.
Korban terbanyak sebenarnya dari instansi dinas pendidikan, bahkan ada satu orang Kepala tata Usaha di salah satu sekolah membawa korban sampai 40 orang. Ada salah satu kerabat dekat pejabat, juga menjadi salah satu korban perekrutan CPNS palsu. Ada juga beberapa Kepala Sekolah yang menyerahkan sejumlah uang kepada penipu CPNS, dengan memasukkan nama saudara dan anak kandungnya sendiri.
Bahkan korban CPNS 2014, ada yang sudah menerima Surat Keputusan (SK) CPNS aspal, dan sampai saat ini SK tersebut masih ada dan disimpan oleh korban penipuan CPNS.
Sebenarnya, kasus ini sudah dibongkar langsung oleh Kepala BKD saat itu. Setelah melakukan pengecekan keaslian SK yang diterima oleh korban penipuan CPNS, dan dipastikan SK tersebut palsu. Kepala BKD saat itu, melakukan penggerebekan pertemuan antara penipu CPNS dan para korban di aula salah satu kantor pemerintah.
Anehnya, dalam penggerebekan tersebut, pelaku dapat meloloskan diri dengan kabur dengan kendaraan roda empat. Diduga kendaraan para penipu CPNS tersebut, memang sudah disiapkan standby siap jalan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk melarikan diri.
Setelah pelaku penipuan CPNS berhasil melarikan diri, para korban yang kebanyakan dari PNS yang mengkoordinir perekrutan CPNS bodong tersebut baru tersadar, sebagai korban penipuan CPNS.
Para korban penipuan CPNS hanya mengenal 2 orang pelaku, yang satu dipanggil datuk yang mengaku sebagai warga Probolinggo dan yang satu mengaku warga Blitar dan mengaku pejabat dari pusat.
Akhirnya, banyak PNS yang saat itu menjadi koordinator perekrutan CPNS palsu tersebut harus berurusan dengan para korban yang meminta sejumlah uang yang telah disetorkan untuk dikembalikan.
Beberapa korban yang paham, bahwa baik koordinator perekrutan CPNS maupun pihak yang menyetorkan sejumlah uang untuk keperluan CPNS, sama-sama menjadi korban penipuan. Tetapi bagi pihak yang tidak sadar, tetap menuntut uangnya dikembalikan oleh para koordinatornya.
Sedang pelaku, mulai kejadian melarikan diri, sudah tidak dapat lagi dihubungi. Dan dicek ke instansi sesuai pengakuan penipu CPNS tersebut, tidak ditemukan nama orang tersebut. Dan kantor tersebut juga mengklarifikasi jika tidak ada perekrutan CPNS dengan cara-cara seperti yang dilakukan penipu CPNS tersebut. (H. Darma)


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home