OPINI : POLITIK SEPERTI CINTA YANG BIKIN PATAH HATI

OPINI - teropongtimur.co.id - Politik bikin kecewa itu sudah niscaya, sama persis seperti cinta yang bikin patah hati. Tak bisa ditawar-tawar lagi.
Terkait dengan kekecewaan Presidium 276 Relawan Sabar, kami menyatakan bahwa ini semata adalah karena realitas politik. Realitas tentang komitmen politik yang selama ini masih sulit untuk dilaksanakan oleh partai politik dan para pelaku politik.

Artinya Kepada Partai Pendukung dan Relawan jangan terlalu berharap kepada Bupati dan Wakil Bupati yang sudah kita antarkan pada kursi kepemimpinannya. Realita politik, tidak terlepas dari banyaknya kepentingan yang ada di Partai Pengusung. Jika Politik itu bicara, tidak ada makan siang yang gratis, selalu menghitung untung rugi, kamu dapat apa aku dapat apa, kamu minta jabatan apa dan saya kebagian jabatan apa.
Kita lihat minggu-minggu kemarin saja, Partai Pengusung sudah tidak solid mendukung Visi Misi pemerintah terutama janji politik kenaikan honor guru ngaji, dengan alasan anggaran tidak cukup, tidak diajukan dan alasan lainnya. Hanya salah satu anggota DPRD partai Pengusung yang tetap setia mendukung relawan memperjuangkan kenaikan honor guru ngaji.
Jadi kami para relawan yang lebih pro-aktif dan konsisten melakukan tindakan, perilaku, yang sifatnya mem-back up pemerintah dan mendukung program pemerintah. Kesoliditasan relawan lebih terjaga sampai sekarang.

Tetapi disaat Relawan memberikan usulan, ganti Partai Pengusung dengan pro-aktif berkomentar di media, seakan Relawan IKUT CAMPUR atau NGRIWUI pemerintah. Partai politik pengusung hanya menganggap Relawan dibutuhkan saat mencari suara saja, setelah menang hanya partai politik yang boleh bicara kepada pemerintah, tugas relawan dianggap sudah selesai, cukup menghantarkan kemenangan, setelah menang.. Partai Pendukung dan Realawan minggir.... urusan Bupati/Wakil Bupati serta Partai Pengusung yang mengatur pemerintahan.
Perjuangan Relawan memenangkan Sabar tidak bisa di nafikkan begitu saja. Jika kita lihat, kemenangan tipis Sabar hanya 17.000-an suara, jika tanpa Partai Pendukung dan Relawan, dan hanya mengandalkan Partai Pengusung, pasangan Sabar dapat dipastikan kalah.

Kami para relawan, tidak ingin perjuangan kita ternodai, kami tidak mau dianggap ikut campur dan ngriwui pemerintah, walau kita semua sadar kemenangan Sabar sangat tipis, Partai Pendukung dan Relawan adalah sebagai tambahan suara penentu kemenangan Pasangan Sabar.
Kembali ke realita politik yang sulit untuk di pegang komitmennya, Partai Pendukung dan Relawan jangan terlalu larut dalam oleh janji politik sebelum kemenangan di raih. Tugas kita sebagai Partai Pendukung dan Relawan sudah mensukseskan Kiai Salwa dan H. Irwan, duduk sebagai Bupati dan Wakil Bupati.
Sistem Pilkada saat ini memiliki kelemahan, yaitu pasangan calon tergantung pada kelompok politik pengusungnya di awal pemerintahan. Dia terlalu mengakomodasi tuntutan pengusungnya, termasuk dalam penempatan posisi pejabat SKPD.
Bupati dan Wakil Bupati masih terikat dengan balas budi politik partai pengusung, dan itu menjadi kekuatiran publik bahwa Pemerintah tidak bisa melepaskan diri dari politik balas budi partai pengusung.

Harus diakui bahwa KH. Salwa memiliki basis massa politik pendukung yang riil karena beliau adalah tokoh kiai kharismatik dan bukan pimpinan partai politik. Pendukung atau pemilihnya di Pilkada adalah massa yang diikat oleh imajinasi dan harapan akan perubahan. Bukan hanya massa partai politik pengusung saja.
Sudah waktunya Pemerintah terutama KH. Salwa Arifin mulai perlahan-lahan memainkan peran politik yang strategis. Sebagai Bupati, beliau bisa memainkan peran sebagai fasilitator dan mediator dari kekuatan politik yang saling bersaing. Berdiri di atas semua kelompok politik, tidak lagi mementingkan koalisi pendukungnya, tapi harus mencoba mengakomodasi semua kelompok.
Oleh : H. NAWIRYANTO WINARNO
Labels: TEAM TEROPONG

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home