Koin Mencari Keadilan Untuk Bondowoso (Bagian Kedua)
Di Pojok Alun Alun Bondowoso
Antara Semut dan Gajah
Antara Semut dan Gajah
Oleh Nanda Pratama
Wacana diadakan pengumpulan dana perjuangan untuk menggugat keadilan tentang status keabsahan seorang anggota legeslatif, menjadi isu santer di kalangan aktivis sosial dan Insan Pers dikota Bondowoso. Tak terkecuali kalangan ”kaum politisi” dan intelektual yang selama ini terdiam dalam kebekuan pemikiran untuk mencoba merubah sistem managemen biokrasi yang dinilai korup oleh beberapa kalangan aktivis anti korupsi.
Pencetusnya seorang aktivis sosial berpenampilan eksentrik dengan rambut gondrong yang seakan tak terurus dan badan gemuk serta kulit lusuh tak terawat, yang selama ini perjuangannya untuk Bondowoso dipandang sebelah mata oleh kalangan elite politik maupun elite sosial di Kota Lereng Gunung Ijen ini.
Johan Gondrong, masyarakat Bondowoso menyebut Ketua Badan Pekerja Reklaseering Bondowoso ini. Nama asli Johan Effendy justru lenyap seperti ditelan bumi tertimbun julukan yang sekarang menjadi buah bibir dikalangan aktivis sosial dan politisi. Keberaniannya melaporkan Keabsahan status oknum Ketua DPRD Bondowoso kepada Polres Bondowoso merupakan bukti perjuangan yang tak henti hentinya yang dilakukan oleh sosok keras dan pemberani ini untuk tanah kelahiran yang sangat dia cintai. Laporan pada polres memang sempat mengecewakannya, tapi kekecewaan itu tidak terlalu lama setelah mendapat masukan dari beberapa rekan seperjuangan, bahwa justru penjelasan polres melalui SP2HP adalah awal petunjuk perjuangan yang bagus untuk awal langkah baru dan tepat dalam menuju target perjuangan.
Keterangan KPUD dihadapan Penyidik polres dipandang sebagai ” bukti outentik” untuk memperkarakan ketetapan KPUD dalam meloloskan seorang anggota dewan yang di nilai Johan Gondrong ”Cacat Hukum” karena tidak sesuai dengan ketentuan perundang undangan yang berlaku.
Awalnya Johan ragu untuk melangkah meneruskan perjuangannya memperkarakan masalah tersebut. Hal itu bukanlah suatu yang aneh karena ”lawan” yang akan dihadapi adalah seekor gajah yang memiliki “backing” kuat dan harta yang bejibun. Sedangkan dirinya hanyalah seorang aktivis sosial yang barang barangnya sudah ludes dijual untuk perjuangan. Tapi dengan tekat yang membara, bagai api nan kunjung padam, datanglah banyak simpati dari kaum tertindas dan rasa simpati itu diwujudkan secara diam diam dan ada puls yang terang terangan.
Adalah Suwarno yang lebih akrab dipanggil Cak War, seorang pekerja Jurnalistist, tergugah hati dan semangatnya membantu teman seperjuangannya, Johan Gondrong untuk mewujudkan revolosi managemen sistem biokrasi yang dipandang ”bobrok” oleh mayoritas masyarakat. Terciptanya dugaan ” sentral Power” yang sangat rentan terhadap managemen yang “corrupt” yang dapat berpotensi menjadi embrio korupsi disetiap lini Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah sistem yang ingin dirubah oleh obsesi perjuangan Johan Gondrong. Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, bahwa penyebabnya adanya sentral power oleh pejabat yang menjadi pemegang kebijakan daerah.
Untuk mewujudkan cita cita perjuangannya tersebut, Johan Gondrong dibantu Cak War dan Relawan, akan menyatukan suara hati, tekat, semangat masyarakat Bondowoso dalam sebuah gerakan yang diberi nama GEMA BONDOWOSO (Gerakan Masyarakat Bondowoso) dengan Thema Perjuangan MENGAIS MU’JIZAT KEADILAN.
Tentunya ide perjuangan besar tersebut dibutuhkan suatu komitmen diri yang kuat dan semangat serta keberanian yang ektra untuk melawan ”GAJAH” yang bukan hanya memiliki Gading Panjang serta Kaki besar yang cukup untuk menginjak perut Johan Gondrong dan Cak War. Tapi sebesar-besarnya gajah, akan mati jika dikerubut semut merah yang ganas dan berani untuk masuk dalam ”hidung dan telinganya”.
Koin keadilan untuk Bondowoso adalah sebuah strategi mengumpulkan tekat, semangat dan rasa persatuan masyarakat Bondowoso untuk melawan tirani. Semut semut merah itu mulai bahu membahu dan berkumpul disuatu tempat yang kelak menjadi sarang perjuangan untuk memulai langkah menghancurkan tirani dan merubah tatanan sistem yang dipandang ”bobrok” oleh Masyarakat Bondowoso. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Selamat berjuang, kawan !!! (str1)


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home