Wednesday, 25 May 2022

Do’a Bersama Lintas Suku, Budaya dan Agama di Pura Dalem Sumedang, Pemogan, Denpasar Bali

 


Denpasar, www.teropongtimur.co.id

Jum’at 20 Mei 2022. Padepokan Gagak Karancang Indonesia DPD. Bali yang di ketuai oleh Harry Sunkil melaksanakan Upacara Adat Sunda Wiwitan di Pura Dalem Sumedang, Pemogan, Denpasar Bali, Jum’at 20 Mei 2022. Upacara Adat ini dimaksudkan untuk Pangeling-eling Dirgahayu Sumedang Larang yang ke 444 / Peringatan Ulang Tahun Kab.Sumedang yang ke 444. Kab. Sumedang merupakan salahsatu kota di Jawa Barat.


Acara ini dihadiri langsung oleh Sesepuh, Tokoh Puri dan Elemen Masyarakat, diantaranya sesepuh pengempon Pura Dalem Sumedang, Puri Pemecutan, Puri Grenceng, Tokoh Adat Bali, Tokoh dari Kejawen, dan juga dari Padepokan MAS yang diketuai oleh Ki Mangun Asmoro. 


Dalam pelaksanaaan Upacara Adat ini dilakukan Do’a bersama lintas Suku, Budaya dan Agama, diawali dengan tata cara upacara Hindu Bali, yang dipimpin oleh pengempon Jro Mangku Pura Dalem Sumedang, dilanjutkan dengan tata cara Upacara Sunda Wiwitan yang dipimpin langsung oleh Ki Raga Sukma, Guru Besar Padepokan Gagak Karancang Indonesia, selanjutnya dilaksanakan Doa Bersama-sama lintas Agama. 


Acara ini ditutup dengan pementasan kesenian tradisional dari Sunda diantaranya yaitu Rajah Sunda, Karinding, Kecapi Suling dan Kesenian Sakral yaitu Tarawangsa, semua yang hadir dalam acara membaur menari tanpa membeda-bedakan Suku, Budaya dan gama, semuanya euforia menikmati setiap alunan music tradisional ini, bahkan ada dari beberapa yang menari sempat tak sadarkan diri. Musik Sakral Tarawangsa ini pertama kali dimainkan di Pura Dalem Sumedang, itu pun karena kekuatan  keyakinan dan janji dari Ki Raga Sukma untuk membawa dan mengenalkan kesenian tradisional dari Jawa Barat ini sampai ke Pulau Dewata Bali.   

                           Video Kesenian

Kesenian Tarawangsa ini sendiri awa mulanya yaitu kesenian untuk persembahan kepada Nyai Sri Pohaci/Nyi Pohaci Sanghyang Dangdayang Asri, Dewi Asri (Dewi Sri) sebagai dewi padi/dewi kemakmuran masyarakat Sunda, dimainkan ketika akan menanam padi atau panen padi. Tapi dengan serining perkembangan jaman, kesenian Tarawangsa sering ditampilkan di dalam upacara atau acara budaya. Dalam beberapa literatur lontar/kitab sejarah Sunda Kuno, diyakini bahwa Kesenian Tarawangsa ini salahsatu kesenian tertua di Nusantara, dan yang masih melestarikan kesenian Tarawangsa ini yaitu Kab.Sumedang di Jawa Barat, dan diantara beberapa paguyuban seni yang masih melestarikan kesenian Tarawangsa diantaranya yaitu Padepokan Gagak Karancang Indonesia.


Kata tarawangsa juga termuat dalam kitab-kitab kuno abad ke-10 yang ditemukan di Bali. Kata tarawangsa dapat ditemukan dalam literatur tersebut dengan kata lain “trewasa” dan “trewangsah”. Bahkan pada masa itu kesenian ini sudah hidup pada masyarakat Sunda, Jawa dan Bali. Namun seiring perkembangan jaman, kini bekas maupun artefak dari alat musik ini sudah tidak diketemukan lagi, Bahkan masyarakatnya pun sudah tidak lagi mengenal alat musik tersebut. (Didi Wiardi: 2008 dalam Ahmad, 19 Februari 2009), terutama di wilayah Jawa maupun Bali. Argumen tersebut muncul dari catatan Jaap Kunst dalam bukunya Hindu-Javanese Musical Instruments (1968).


Kenapa acara ini tepatnya harus di Pura Dalem Sumedang? Ki Raga Sukma menjelaskan bahwa beliau asli Trah Keraton Sumedang Larang, dan Pura Dalem Sumedang erat kaitannya dengan sejarah Sumedang Larang, karena di Pura Dalem Sumedang tempat melinggih/bersemayamnya salahsatu leluhur dari Sumedang Larang. Beliau juga mengajak kepada generasi penerus bangsa dimana pun berada untuk senantiasa menjaga, merawat dan melestarikan Seni, Adat dan Budaya Adi Luhung Warisan Leluhur.



Pewarta : Tim Saminto/Nisa

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home