Saturday, 21 May 2022

ANUGERAH KEBUDAYAAN 2022 UNTUK SINDHUNATA DAN APRESIASI SENIMAN KOTA BATU, DKKB GELAR ANUGRAH KEBUDAYAAN

 


Batu - Malang, www.teropongtimur.co.id

Pemerintah Kota Batu dan Dewan Kesenian Kota Batu memberikan Anugerah Kebudayaan 2022 bidang sastra kepada wartawan senior Gabriel Possenti Sindhunata SJ dan empat seniman sepuh asal Kota Batu, Jawa Timur.acara penganugrahan berlangsung di gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jumat 20/5/2022 malam.


Selain Sindhunata, 4 seniman lain yang mendapatkan Anugerah Kebudayaan 2022 ialah : Sujopo Sumarah Purbo ( seni tari ), almarhum Agus Tri Wahyudi ( seni reog), Miftach Abdul Hadi (seni rupa), dan almarhum Sukisno Doyok (seni ludruk). 

Walikota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, pemilihan tokoh yang mendapatkan anugerah kebudayaan di lakukan oleh para seniman. 'Maestro kita banyak, tetapi mereka ngetopnya di luar Batu. Mungkin karena dulu Batu adalah sebuah kecamatan ( di kabupaten Malang), kalau tidak keluar dari Batu, maka tidak akan menjadi besar. Boleh berkarya di manapun, tetapi jangan sampai lupakan Batu, "ujarnya.

Dewanti berharap agenda pemberian anugerah kebudayaan bisa di laksanakan berkesinambungan agar seniman dan budayawan asal kota Batu yang berkarya di luar semakin di kenal masyarakat kota Batu. "Seperti Romo Sindhu yang biasa menulis, (ternyata beliau) berasal dari Batu," kata Dewanti. 

Ketua Dewan Kesenian Kota Batu Ki Sunarto mengatakan, anugerah kebudayaan ini merupakan apresiasi dari para seniman kepada budayawan dan maestro yang telah membawa kota Batu kekancah nasional dan internasional. Pendapat senada di lontarkan ketua panitia anugerah kebudayaan Sudarmo Hadipuro. Menurut dia, kota Batu telah melahirkan banyak seniman besar. 

"Harapannya, dengan event ini, kelak Batu bisa jadi mercusuar seperti Yogyakarta dan Bali sebagai kota budaya " ujar Sudarmo yang pada kesempatan ini memberikan hadiah keris " Anak Bajang " kepada Sindhunata yang lahir pada 12 Mei 1952 di kota Batu. 


BEDAH BUKU


Seusai penyerahan anugerah kebudayaan, panitia mengelar bedah buku novel terbaru Sindhunata berjudul Anak Bajang mengayun bulan yang di ulas oleh Yusri Fajar dengan moderator Holy gat Mellisa. Sebelum di luncurkan dalam bentuk buku, kisah Anak Bajang mengayun bulan di muat secara bersambung sejak 27 September 2021 hingga 7 Maret 2022.

Pada 29 Maret, novel Anak Bajang mengayun bulan, yang di terbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka utama, di rilis di toko buku Gramedia Yogyakarta. Novel ini menyusul karya sebelumnya yang terbit tahun 1983 silam berjudul anak bajang mengiring angin dan sebelumnya juga di muat dalam bentuk cerita. 

Ide mewujudkan novel anak bajang mengayun bulan muncul saat peresmian museum anak bajang di rumah kebudayaan Omah Petroek di Hargobinagun, Pakem, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang di kelola Sindhunata. Saat itu, tebersit olehnya untuk menulis seri anak bajang kedua dengan berbasis dari cerita Wayang Arjunasasrabahu. 

Sebelumnya, 40 tahun lalu,Sindhunata lebih dulu menulis cerita bersambung anak bajang mengiring angin yang berbasis cerita ramayana. Novel yang menarik perhatian masyarakat ini juga telah di cetak beberapa kali dengan aneka perwajahan sampul.

Berbeda dengan anak bajang mengiring angin, novel anak bajang mengayun bulan setebal 566 halaman ini menampilkan kisah tentang sebuah keluarga yang menjalani suka cita dan tragedi dalam kehidupan. Melalui para tokohnya, kita di ajak kembali memaknai cinta, nafsu, dan kesempurnaan, juga tentang kebaikan dan keburukan. Disinilah sebuah kisah perjuangan sejati dan keikhlasan untuk mencintai sampai habis di tampilkan.

Pewarta : Tim Saminto/Nisa

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home