Kunjungan Kerja Hanya Alasan, Untuk Mengincar APBD
Mengacu pada Sumber
pendanaan KORPRI dapat
diperoleh dari iuran
anggota, bantuan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah
Daerah, bantuan pihak
lain yang tidak
mengikat, dan usaha-usaha
lain yang sah,
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pimred Teropong angkat bicara, Penggunaan biasanya untuk
SPPD tiap anggota DPRD yang mengikuti kunker, tiket pesawat, hotel, akomodasi
dll. yang jadi masalah biasanya anggota DPRDnya tidak berangkat kunker, tetapi
SPPD tetap diambil, dan kenyataannya hasil kunjungan kerja yang menghabiskan uang negara begitu besar, jauh
dari ekspektasi yang diharapkan.karena seyogyanya APBD terdiri atas:
1. Pendapatan Asli
Daerah (PAD), yang meliputi Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah, dan Penerimaan lainnya.
2. Bagian Dana
Perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana
Alokasi Khusus.
3. Lain-lain
pendapatan yang sah seperti Dana Hibah, Dana Darurat, Dana Bagi Hasil Pajak
dari Provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya, Dana Penyesuaian dan Otonomi
Khusus, Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya dan
Pendapatan Lain-Lain.
ada beberapa yang memang tidak tahu tupoksinya menjalankan
kewajiban sebagai anggota dewan, tetapi ketika urusan perut paham semua. Komposisi APBD kita masih manyak
dibebani gaji pegawai yang membutuhkan anggaran hampir 50 % dari total APBD,
sedang biaya operasional/rutin berkisar 20%, Biaya program dan pembangunan 25
%, sisanya untuk bantuan sosial dan hibah. peningkatan dana2 lain itulah bentuk
kecerdasan dan kekuatan kepemimpinan pak amin. Jika melihat Rasio pendidikan
kita masih rendah, tingkat kemiskinan juga masih tinggi, jadi peningkatan APBD
tidak linier dgn keberhasilan kepemimpinan. Besaran APBD tidak dapat dianggap
sbg keberhasilan pemimpin daerah, karena kenaikan APBD berasal hasil perhitungan
pemerintah pusat bukan kebijakan daerah. APBD naik jangan dijadikan kebanggaan,
karena anggaran itu sifatnya adalah tools pemerintah dalam mengelola daerah.
Jangan bangga dengan membangun tetapi menggantungkan data dari pusat.
seharusnya pemimpin harus mendatangkan investor untuk membangun di daerah.
seperti Batu, dari kota kecil dengan APBD rendah sekarang menjelma menjadi kota
dengan PAD yang sangat tinggi bangga dengan investor, kata investor disatu
sisi bisa membahayakan tata kehidupan sosial budaya dan tamah kita, bonindo itu
contohnya. dari pada investor lbh baik kekayaan alam bondowso dikelola oleh
anak anak bondowoso.
dari kenaikan
gaji pegawai rata2 5 % per tahun, lalu jaman P Amin, Dana BOS masuk menjadi
PAD, juga bantuan keungan lain yang meningkat, termasuk peningkatan dana bagi
hasil cukai, SDA, pajak dan lain-lain. otomatis, kenaikan gaji, bagi hasil dan
sebagainya sudah masuk. memimpin daerah dengan tingkat kerumitan seperti
bondowso tidak bias secara bimsalabim atau instant namun dibutuhkan waktu serta
proses yang sesuai terhadap rencana pembangunan.Percuma semua debatable, data
statistik, data pemerintah, data lapangan hampir tidak ada yang singkron.
Makanya pemerintah sekarang diharapkan dapat memasukkan banyak investor yang
menanamkan modalnya di Bondowoso. Jangan
dari kenaikan
gaji pegawai rata2 5 % per tahun, lalu jaman P Amin, Dana BOS masuk menjadi
PAD, juga bantuan keungan lain yang meningkat, termasuk peningkatan dana bagi
hasil cukai, SDA, pajak dan lain-lain. otomatis, kenaikan gaji, bagi hasil dan
sebagainya sudah masuk. memimpin daerah dengan tingkat kerumitan seperti
bondowso tidak bias secara bimsalabim atau instant namun dibutuhkan waktu serta
proses yang sesuai terhadap rencana pembangunan.Percuma semua debatable, data
statistik, data pemerintah, data lapangan hampir tidak ada yang singkron.
Makanya pemerintah sekarang diharapkan dapat memasukkan banyak investor yang
menanamkan modalnya di Bondowoso. Jangan
Tidak ada yang instan daalm membangun, tetapi step by step
harus jelas parameternya. Dan namanya investor tidak harus dari luar mas. Kalau
putra daerah sendiri bias, kenapa harus orang luar. masalahnya apakah investor
belum bisa percaya penuh untuk berinvestasi di bondowoso. Matahari mall
seharusnya di selatan perhutani gagal, panas bumi sampai sekarang belum jelas.
(Darma)


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home