Friday, 1 March 2019

Asal Usul Varietas Tembakau Kasturi Jember



TEROPONG Jbr - Dengan lebih dari 80 persen dari populasi penduduk Jember berprofesi sebagai petani, dan mayoritas sebagai petani tembakau, tak bisa dimungkiri, tembakau begitu berpengaruh dalam menggerakkan roda perekonomian di Jember. Aroma ‘KASTURI” di Jember, adalah juga merupakan aroma kesejahteraan para petani tembakau Jember. Dua peneliti Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang menemui Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat, 1 Maret 2019.

Keseriusan Kabupaten Jember sebagai wilayah pertanian tembakau dibuktikan dengan keberadaan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) terbesar dan satu-satunya di negeri ini. Bertahannya Jember sebagai wilayah pertanian terutama pertanian tembakau juga dibuktikan dengan keberadaan museum tembakau di pusat kota Jember.

Dari sekian banyak jenis tembakau yang ada di dunia, ada dua jenis tembakau yang umum ditanam di Jember. Tembakau pertama berjenis Na Oogst dengan varietas yang ditanam di wilayah Jember adalah Besuki Na Oogst (BNO). Tembakau jenis ini cocok dipakai sebagai pembalut, pengikat atau pembungkus, bahkan pengisi cerutu.

Selanjutnya, tembakau yang banyak ditanam di wilayah Jember adalah tembakau ‘KASTURI”. Tembakau ‘KASTURI” merupakan tembakau jenis Voor Oogst (VO) yang banyak ditanam dan dikembangkan di wilayah Jember dan Bondowoso.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) di bawah Balai Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG) Kementerian Pertanian, tembakau ‘KASTURI” merupakan jenis tembakau krosok yang biasa digunakan sebagai campuran untuk produksi rokok kretek karena memiliki rasa yang gurih, aroma yang kuat, serta kadar nikotin yang cukup tinggi.Dari seluruh produksi tembakau kasturi nasional, sebanyak 11 persen diekspor dengan label Besuki Voor Oogst (BVO).

Di Jember sendiri, hamparan lahan pertanian tembakau jenis kasturi berada pada angka 3000 hingga 4000 hektare. Tembakau jenis ini mulai ditanam pada penghujung musim hujan dan dipanen antara bulan Juli hingga bulan September. Rata-rata produksi tembakau ‘KASTURI” di Jember mencapai angka 985 kilogram per hektare. Menurut riset yang dilakukan BALITTAS, maksimal produksi tembakau kasturi per hektare bisa mencapai 1,75 ton.

Pada mulanya, para petani tembakau di Jember menanam tembakau jenis ‘KASTURI” dengan varietas yang beragam sesuai dengan karakteristik wilayah tanam masing-masing. Pada 1997, dilakukan pemuliaan untuk memperbaiki varietas lokal yang ada. Seleksi terhadap varietas lokal menghasilkan dua varietas yang diputihkan/dilepas pada tahun 2006, yaitu Kasturi 1 dan Kasturi 2 berdasarkan SK Mentan No: 132/Kpts/SR.120/2/ 2007 dan No: 133/Kpts/SR.120/2/2007. (*)



Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home