Asal Usul Varietas Tembakau Kasturi Jember
TEROPONG Jbr - Dengan lebih dari 80 persen dari
populasi penduduk Jember berprofesi sebagai petani, dan mayoritas sebagai
petani tembakau, tak bisa dimungkiri, tembakau begitu berpengaruh dalam
menggerakkan roda perekonomian di Jember. Aroma ‘KASTURI” di Jember, adalah
juga merupakan aroma kesejahteraan para petani tembakau Jember. Dua peneliti
Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang menemui
Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat, 1 Maret
2019.
Keseriusan Kabupaten Jember sebagai wilayah
pertanian tembakau dibuktikan dengan keberadaan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
(Puslitkoka) terbesar dan satu-satunya di negeri ini. Bertahannya Jember
sebagai wilayah pertanian terutama pertanian tembakau juga dibuktikan dengan
keberadaan museum tembakau di pusat kota Jember.
Dari sekian banyak jenis tembakau yang ada di dunia,
ada dua jenis tembakau yang umum ditanam di Jember. Tembakau pertama berjenis
Na Oogst dengan varietas yang ditanam di wilayah Jember adalah Besuki Na Oogst
(BNO). Tembakau jenis ini cocok dipakai sebagai pembalut, pengikat atau
pembungkus, bahkan pengisi cerutu.
Selanjutnya, tembakau yang banyak ditanam di wilayah
Jember adalah tembakau ‘KASTURI”. Tembakau ‘KASTURI” merupakan tembakau jenis
Voor Oogst (VO) yang banyak ditanam dan dikembangkan di wilayah Jember dan
Bondowoso.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai
Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) di bawah Balai Penelitian dan
Pengembangan (BALITBANG) Kementerian Pertanian, tembakau ‘KASTURI” merupakan
jenis tembakau krosok yang biasa digunakan sebagai campuran untuk produksi
rokok kretek karena memiliki rasa yang gurih, aroma yang kuat, serta kadar
nikotin yang cukup tinggi.Dari seluruh produksi tembakau kasturi nasional,
sebanyak 11 persen diekspor dengan label Besuki Voor Oogst (BVO).
Di Jember sendiri, hamparan lahan pertanian tembakau
jenis kasturi berada pada angka 3000 hingga 4000 hektare. Tembakau jenis ini
mulai ditanam pada penghujung musim hujan dan dipanen antara bulan Juli hingga
bulan September. Rata-rata produksi tembakau ‘KASTURI” di Jember mencapai angka
985 kilogram per hektare. Menurut riset yang dilakukan BALITTAS, maksimal
produksi tembakau kasturi per hektare bisa mencapai 1,75 ton.
Pada mulanya, para petani tembakau di Jember menanam
tembakau jenis ‘KASTURI” dengan varietas yang beragam sesuai dengan
karakteristik wilayah tanam masing-masing. Pada 1997, dilakukan pemuliaan untuk
memperbaiki varietas lokal yang ada. Seleksi terhadap varietas lokal
menghasilkan dua varietas yang diputihkan/dilepas pada tahun 2006, yaitu
Kasturi 1 dan Kasturi 2 berdasarkan SK Mentan No: 132/Kpts/SR.120/2/ 2007 dan
No: 133/Kpts/SR.120/2/2007. (*)
Labels: Pemerintah



0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home